On The Spot 7

Informasi Unik dan Menarik

Bentuk Semangka Abad 17 Berbeda dengan Sekarang


Semangka dikenal sebagai buah berbentuk bundar dengan bagian daging penuh berwarna merah. Rupanya bentuk ini telah mengalami perubahan. Sebuah lukisan di zaman renaissance mengungkapkan bentuk semangka di abad ke-17.

Zaman renaisans yang berlangsung pada abad ke-17 dikenal sebagai gerakan budaya di Eropa. Di abad ini, Giovanni Stanchi melukis aneka buah-buahan. Sekilas tak ada yang ganjil dengan lukisan buah tersebut, namun siapapun yang melihatnya akan mendapati buah berbentuk unik di pojok kanan bawah lukisan.

Klik untuk memutar

Setelah diperhatikan, buah tersebut rupanya semangka yang kini populer sebagai buah dengan isian daging penuh berwarna merah terang didalamnya. Lewat lukisan yang dibuat antara tahun 1645 dan 1672 tersebut, semangka diketahui memiliki biji lebih besar dengan bagian daging buah yang tidak penuh serta berwarna merah pucat.

Seperti yang dikutip dari detik.com, Pola daging buah semangka di abad ke-17 sangatlah unik karena seperti terpisah dan membentuk pola melingkar di tiap bagiannya. Perbedaan bentuk semangka ini terjadi karena perbedaan cara membiakkan ketika zaman dahulu dan sekarang.

James Nienhuis, seorang profesor hortikultura di Universitas Wisconsin kerap menggunakan lukisan Stanchi sebagai media pembelajaran tentang sejarah pembiakkan tanaman di kelas.

“Sangat menyenangkan ketika pergi ke museum dan melihat lukisan yang menggambarkan benda-benda yang masih ada hingga kini. Contohnya, kita dapat melihat bentuk buah 500 tahun lalu,” ujar Nienhuis.

Semangka awalnya berasal dari Afrika, tetapi setelah dibiakkan semangka justru berkembang di daerah panas seperti Timur Tengah dan Eropa Selatan. Semangka juga menjadi buah yang umum ditemukan di perkebunan Eropa maupun di pasar, sekitar tahun 1600.

Nienhuis menduga rasa semangka di abad ke-17 lebih manis dari yang saat ini ada karena dulunya semangka ini dimakan segar dan terkadang difermentasi menjadi anggur.

Mengenai bentuk semnagka saat ini, Nienhuis menjelaskan ini terjadi karena semangka sengaja dibiakkan dengan daging buah berwarna merah terang. Bagian daging semangka yang berair sebenarnya adalah plasenta semangka yang berfungsi menahan biji.

Sebelum semangka benar-benar dibiakkan, plasenta tersebut hanya mengandung sedikit lycopene yang memberi warna merah pada semangka. Akibatnya warna daging buah semangka di abad ke-17 merah pucat.

Beberapa ratus tahun kemudian ketika semangka dibiakkan dengan lebih bagus, maka ukuran semangka menjadi lebih kecil dan jumlah lycopene-nya jauh lebih tinggi sehingga menghasilkan daging buah berwarna merah terang.

Selain perubahan bentuk dan warna semangka, Nienhius menjelaskan saat ini para ilmuwan sedang bereksperimen untuk menghilangkan biji semangka. Ia menyebutnya dengan ‘the logical progression in domestication’.

.
Updated: Agustus 14, 2015 — 03:27
On The Spot © 2014